keluatga sakinah

Keluarga yang dekat dengan Allah akan menjadi keluarga yang layak ditolong olehNya dalam setiap urusannya.
Showing posts with label tazkirah. Show all posts
Showing posts with label tazkirah. Show all posts

Tuesday, May 11, 2010

Penawar dikala Penat


Bagi mengatasi kepenatan melaksanakan tugas-tugas seharian sama ada di rumah mahupun di tempat kerja, bolehlah jadikan petua yang diajar oleh Rasulullah s.a.w. kepada puteri kesayangannya Saidatina Fatimah sebagai penawarnya.

Suatu hari Saidatina Fatimah mengadu kepada suaminya Saidina Ali bin Abu Talib tentang kesakitan pada tangannya kerana keletihan menggiling gandum untuk membuat roti. Saidina Ali berkata :

“Bapa kamu telah datang membawa balik tawanan perang. Berjumpalah dia dan mintalah seorang khadam untuk membantu mu.”

Saidatina Fatimah pergi bertemu bapanya dan menyatakan hasrat untuk mendapatkan seorang khadam bagi membantu tugas hariannya di rumah. Bagaimanapun Rasulullah s.a.w. tidak mampu memenuhi permintaan anak kesayangannya itu. Lalu Baginda s.a.w. pergi menemui puterinya serta menantu itu. Baginda s.a.w. berkata:

“Apa kamu berdua mahu aku ajarkan perkara yang lebih baik daripada apa yang kamu minta daripadaku? Apabila kamu berdua berbaring untuk tidur, bertasbihlah (Subhanallah) 33 kali, bertahmid (Alhamdulillah) 33 kali dan bertakbir (Allahuakbar) 33 kali. Ia adalah lebih baik untuk kamu berdua daripada seorang khadam.”

Inilah penawar ringkas yang Nabi s.a.w. ajarkan kepada anak dan menantunya bagi meringankan keletihan dan kesusahan hidup mereka berdua. Saidina Ali terus mengulang-ulang kalimah-kalimah Rasulullah.s.a.w. ini. Katanya

“Demi Allah aku tidak pernah meninggalkannya semenjak ia diajarkan kepadaku.”

Sayugia dicadangkan kepada ibu-ibu, suami-suami atau sesiapa sahaja yang merasai kepenatan setelah melakukan tugas-tugas harian supaya mengamalkan membaca ‘Subhanallah’ (33 kali), ‘Alhamdulillah’ (33 kali) dan ‘Allahuakbar’ (33 kali) pada setiap malam is itu sebelum melelapkan mata.

Lakukanlah dengan penuh ikhlas dan istiqamah (berterusan), Insya- Allah petunjuk Nabawi ini mampu menyelesaikan bebanan-bebanan hidup seharian kita. Akan terserlah ceria di wajah pada keesokan hari dengan senyum

Sunday, May 2, 2010

Lelaki yang ditarik Perempuan ke dalam Neraka

Ayah
Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat, mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat.

Suami
Apabila seorang suami tidak memperdulikan tindak-tanduk isterinya. Bergaul bebas di pejabat, memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan mahram dan apabila suami mendiam diri. Walaupun dia seorang alim (solat tidak tangguh, puasa tidak tinggal) maka dia akan ditarik oleh isterinya.

Abang
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke pula kepada abang-abangnya. Jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya sahaja dan adik perempuannya dibiar melencong dari ajaran ISLAM...Tunggulah tarikan adiknya di akhirat.

Anak Lelaki
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yang haram dari islam, maka anak itu akan disoal dan dipertangungjawabkan di akhirat kelak...nantikan tarikan ibunya.

Kepada golongan lelaki, cuba lah sebaik mungkin untuk melaksanakan tanggungjawab kalian.

Kepada golongan wanita, sama-sama lah meringankan bebanan yang ditanggung oleh golongan lelaki.

Bukankah kita diciptakan untuk sama-sama membantu dan nasihat-menasihati??

Friday, April 30, 2010

Hatiku seperti..??


Keadaan-keadaan hati digambarkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullohu ta’ala dengan sebuah perumpamaan yang sangat indah, yakni keadaannya seperti tiga buah rumah ;

1. Rumah milik raja, yang didalamnya terdapat harta simpanan yang melimpah serta perhiasan yang mulia.

2. Rumah milik budak, yang didalamnya tersimpan harta milik budak itu dan simpanannya, yang tentu saja tidak seperti harta benda milik sang raja.

3. Rumah yang kosong tidak ada isinya sedikitpun.

Pencuri datang untuk menjarah salah satu dari tiga rumah tersebut. Lalu rumah manakah yang akan menjadi sasarannya?

Jika engkau menjawab, “ia akan menggasak rumah kosong”, tentu tidak akan mungkin dan hanya akan sia-sia, sebab didalamnya tidak ada sesuatupun yang bisa dijarah.

Suatu ketika datang seseorang berkata kepada Ibnu Abbas radhiallohu ‘anhu, “sesungguhnya orang-orang Yahudi beranggapan bahwa mereka tidak bisa diganggu oleh berbagai macam bisikan syeithan ketika shalat.”

Maka Ibnu Abbas mengomentari, “apakah yang bisa dilakukan syeithan terhadap hati yang sudah roboh?”

Kemudian, jika engkau berkata, “Dia akan menjarah rumah milik raja”, sepertinya juga mustahil dan terlalu sulit, karena disana ada para penjaga dan juga mata-mata yang selalu mengintai. Jangankan untuk menjarah, mendekatpun sudah sulit, karena para pengawal, tentara dan penjaga selalu siap.

Maka tidak ada pilihan lain bagi pencuri itu kecuali rumah yang satu lagi, yang ada kemungkinan baginya untuk memasukinya dan menjarah isinya.

Orang yang berpikir hendaknya menyimak permisalan ini dengan seksama lalu meresapinya didalam hati, karena gambaran tentang dirinya ada pada permisalan itu.

Hati yang kosong sama sekali dari kebaikan adalah hatinya orang-orang kafir dan munafik. Itu merupakan rumah Syeithan, tempat tinggal dan tempat bersemayamnya. Lalu apa yang bisa dicuri dari hati yang seperti itu, sementara tidak terdapat apapun didalamnya, yang ada hanyalah hayalan dan lintasan pikiran.

Ada hati yang diisi dengan pen-ta’dhiman kepada Allah Ta’ala, cinta, rasa malu dan takut kepada-Nya. Lalu syeithan manakah yang berani mendekati hati semacam ini? Kalaupun syeithan mencuri darinya, lalu apa yang bisa dicuri? Namun tetap saja syeithan akan mencari-cari kesempatan untuk menjarah dengan merampas dan menyambar ketika orang tersebut dalam keadaan lalai. Karena bagaimanapu ia juga manusia biasa yang bisa lalai, lupa, ada syahwat dan lain-lain.

Ada pula hati yang didalamnya ada tauhid kepada Allah Ta’ala, iman, ma’rifat, cinta kepada-Nya dan pembenaran terhadap janji-Nya, namun didalamnya juga ada syahwat, nafsu dan naluri. Hati yang ada diantara dua hal ini (Iman dan syahwat) terkadang condong kepada Iman, cinta dan pen-ta’dziman kepada Allah dan terkadang condong kepada hawa nafsu dan nalurinya. Maka hati yang semacam inilah yang menjadi incaran jarahan syeithan. Namun Allah tetap memberikan pertolongan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

”Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah yang maha Perkasa lagi maha Bijaksana.” [Ali-Imran:126]

Ketahuilah, bahwa syeithan tidak akan dapat berbuat banyak terhadap seorang hamba kecuali jika ia (syeithan) mendapatkan senjatanya. Dengan membawa senjata itu dia menyusup dan melumpuhkan hati seorang hamba. Senjata syeithan itu adalah syahwat, syubhat, hayalan, angan-angan yang kosong, yang semuanya ada didalam hati. Jika seorang hamba mempunyai iman yang dapat menyadari dan menghadang serangan syeithan itu, maka syeithan itu pasti akan kalah. Jika tidak, maka dia akan mudah dikuasi syeithan.

Jika seorang hamba memberikan peluang kepada musuh dan memberikan pintu baginya serta menyodorkan senjata kepada syeithan yang justru senjata itu akan digunakan untuk menguasai dirinya, berarti dia adalah yang bodoh dan tercela.

[Dinukil dari kitab Shohihul wabilus shoyyib minal kalimit Thayyib, karya Ibnu Qayyim]